Di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh sawah dan perbukitan hijau, tinggal seorang anak laki-laki bernama Faiz. Dia adalah seorang pemuda cerdas dengan semangat tinggi dalam mengejar pengetahuan agama. Faiz sering mengikuti pengajian di masjid desa dan rajin menghadiri sekolah agama.
Selain Faiz, ada juga temannya, Ali, yang tinggal di desa yang sama. Ali adalah seorang anak yang baik hati dan selalu tertarik untuk belajar agama. Namun, Ali tidak memiliki kemampuan belajar yang sebaik Faiz. Dia sering kesulitan memahami pelajaran agama dan seringkali bingung saat mengikuti pengajian.
Suatu hari, Faiz dan Ali berbicara setelah pengajian. Ali berkata dengan rasa frustrasi, "Faiz, aku tidak tahu kenapa aku begitu kesulitan untuk mengerti pelajaran agama. Aku mencoba keras, tapi aku selalu merasa bodoh di depan teman-teman lain yang pintar."
Faiz tersenyum lembut dan menjawab, "Ali, jangan merasa seperti itu. Setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda, dan kecerdasan tidak selalu terukur dari seberapa cepat seseorang menghafal atau memahami sesuatu. Yang penting adalah niat kita untuk memahami agama kita dengan tulus."
Ali terdiam sejenak, lalu bertanya, "Tapi bagaimana aku bisa belajar dengan baik jika aku tidak begitu pintar?"
Faiz berkata, "Ali, yang terpenting adalah ketulusan hatimu. Jangan fokus pada seberapa cepat atau pintar kita dalam menghafal atau memahami teks agama. Fokuslah pada niat baik kita untuk belajar dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Jika kita jujur dengan diri kita sendiri dan Allah, maka kita akan mendapatkan manfaat yang besar dari setiap usaha kita."
Ali mulai merenungkan kata-kata Faiz. Dia menyadari bahwa belajar agama bukan hanya tentang menjadi pintar atau menguasai banyak hafalan, tetapi juga tentang niat yang tulus dan kemauan untuk berubah menjadi lebih baik.
Dari hari itu, Ali belajar dengan lebih rendah hati dan tidak lagi merasa inferior di hadapan teman-temannya, yang mungkin lebih pintar. Dia belajar dengan penuh kesabaran dan ketulusan, selalu berusaha untuk memahami pesan agama dan menerapkannya dalam kehidupannya sehari-hari.
Ketika pengajian berlangsung, Faiz dan Ali selalu duduk bersama. Mereka berdiskusi tentang pelajaran agama, saling membantu jika salah satu dari mereka mengalami kesulitan, dan yang terpenting, mereka menjalani perjalanan keagamaan mereka dengan jujur dan tulus.
Kisah Faiz dan Ali mengajarkan kepada kita bahwa dalam belajar agama, niat dan ketulusan sangatlah penting. Tidak masalah seberapa pintar kita, yang terpenting adalah upaya kita untuk memahami agama dan menjalankan ajarannya dengan baik. Ngaji bukan hanya tentang menjadi pinter, tetapi juga tentang menjadi lebih baik dan jujur dengan diri sendiri serta Allah.

